Biarkan Anakku Menjadi Karna atau Musa

Semenjak kelahiran anak kembarnya, perempuan itu tak pernah dapat tidur dengan nyenyak. Laki-laki dan perempuan, dampit! kata orang. Sebuah kelahiran yang langka. Di desanya memang ada juga yang melahirkan bayi kembar. Tapi semuanya laki-laki atau semua perempuan. Sedangkan bayinya laki dan perempuan. Yang lahir duluan laki-laki, selang tujuh menit kemudian baru yang perempuan. Kata orang-orang tua bayi kembar yang lahir duluan justru yang muda karena yang tua keluar belakangan mengiringi adiknya.

Ia tak begitu peduli siapa yang lebih tua dari keduanya. Yang jelas kelahiran itu membuat jiwanya berubah drastis. Tak lagi dirasakan sempit rumah gedeknya, juga air hujan yang menetes persis di samping dipan tempatnya tidur dan di pojok-pojok dinding kamar. Tubuhnya ringan, wajahnya sumringah, tak ada sisa sakit sedikit pun. Rasa nyeri dan pegal-pegal saat mengejan mengeluarkan dua orok itu dari rahimnya hilang begitu saja.

"Wahyu ini akhirnya datang juga," bisiknya sambil mengelus dua bayi kembar itu. Ia ingat betul bagaimana melewati masa-masa nyidam dulu. Semenjak kandungan perutnya berusia dua bulan tak pernah sekalipun perutnya mual dan muntah-muntah. Tak juga diingininya buah mangga atau rujak yang asam seperti biasa dialami perempuan hamil. Tak juga merasa pusing-pusing atau lesu. Hanya ia menjadi sangat gemar berjalan-jalan. Bukan berjalan-jalan di sawah atau di jalan-jalan desanya, tapi di sungai. Ia betah duduk berjam-jam di pinggir sungai. Memandangi warna sungai yang kini kecoklatan tak lagi jernih sepeti masa kecilnya dulu. Diperhatikan pula riak-riak sungai sambil berpikir tentang makhluk dan benda-
READMORE
 

Nyanyian Malaikat

MALAIKAT akan senantiasa bernyanyi. Mengiringi orang-orang memetik sahang(1, kata nenek sembari menghisap kreteknya dalam-dalam. Amir mencoba membayangkan rupa malaikat itu.

Cantik, berhidung mancung, berbibir tipis yang selalu merekah basah, dan bermata cemerlang sebiru laut. Mengenakan gaun panjang putih bersih berenda-renda yang menjuntai sampai ke tanah. Dengan sepasang sayap putih yang berpendaran kemilau, mengepak-ngepak lembut. Seperti gambar di buku cerita yang pernah dilihatnya di perpustakaan sekolah. Dalam bayangannya, malaikat itu hinggap di pucuk-pucuk junjung(2 sahang, melayang-layang di atas ladang, sambil bersenandung lirih dan bermain harpa.

Berminggu-minggu sejak itu, ia selalu memasang telinga menunggu nyanyian itu terdengar, seperti kata nenek, menyelinap di antara gemerisik daun-daun lada, kicau burung-burung, senda gurau para perempuan memetik sahang, dan suara riak air sungai yang tersibak dilewati kapal-kapal pengangkut kayu dan biduk sampan. Setiap pulang sekolah, tanpa berganti pakaian ia sudah berlari-lari ke ladang. Ikut membantu emak dan ayuk(3 Siti mengumpulkan biji-biji sahang yang sudah berwarna merah, jingga, dan kuning ke dalam kaleng-kaleng untuk kemudian dituangkan ke dalam karung-karung goni bekas beras, sebelum dibawa direndam di pinggiran sungai, sambil membuka telinga lebar-lebar berharap nyanyian itu akan melintas.
READMORE
 

Indri

Indri masih diam memaku di depanku. Saya pun sesaat diam untuk memberi kesempatan ia berkata-kata. Atau minimal membiarkannya menghela napas dalam dengan rasa bebas. Tapi Indri tidak melakukan apa-apa. Tatapannya kosong, keningnya yang lapang semakin memperjelas kehampaan. Rambutnya yang sedikit ikal tersisir rapi dalam dua belahan ke belakang. Lalu Indri menunduk membenarkan baju ungu yang dikenakannya, kembali menatapku. Dan masih tanpa suara.

"Kartu Kesehatan kamu terpaksa dikembalikan oleh perusahaan," kata saya sekali lagi. "Kalau kamu masih berharap bahwa cuti kehamilanmu disetujui untuk mendapatkan biaya ganti, mestinya kamu mau mendengarkan saranku."

Indri hamil. Sebagaimana biasanya, setiap buruh wanita yang hamil akan mendapatkan uang dan kesempatan cuti hingga masa persalinannya. Ia sudah mengajukan sekitar dua minggu yang lalu, tetapi hari ini Kartu Kesehatan yang disertakan dalam pengajuan cutinya kembali. Alasannya, tidak tercantum nama suaminya.

"Saya harus mengisi siapa?" tanya Indri. Saya sudah menduga ia akan mempertanyakan hal itu. "Itulah maksud saya, sedikit direkayasa kan tidak apa-apa. Untuk sementara saja, daripada kamu malah tidak mendapatkan hakmu!" jawab saya, karena saya pikir itu akan ikut memba
READMORE
 

Sistem Reproduksi

Re berarti mengulangi, produksi berarti menciptakan kembali,Reabsorsi terbagi menjadi dua, yaitu:
- Seksual(generatif)
a.Alami (Internal & Eksternal)
b.Buatan (Inseminasi dan bayi tabung)

- Aseksual(vegetatif)
a.Alami (tunas,tunas adventif,rhizoma,umbi lapis, umbi batang, umbi akar)
b.Buatan (mencangkok, stek batang, & merunduk, okulasi, menyambung, kultur jaringan)
1. Organ Reproduksi Laki-Laki
READMORE
 

Saraf



Saraf sebagai sistem koordinasi atau pengatur seluruh aktivitas tubuh manusia mempunyai tiga fungsi utama, yaitu
- Saraf sebagai alat komunikasi antara tubuh dan lingkungan di luar tubuh, melalui alat penerima rangsang atau reseptor yang terdapat pada indra yang meliputi mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Dengan adanya indra maka kita dapat mengetahui perubahan yang terjadi di luar tubuh kita.
- Memproses informasi yang diterima dengan menggunakan sistem saraf yang ada.
- Memberi tanggapan atau respon terhadap reaksi dari rangsangan yang diterima reaksi ini dapat berupa gerakan, Sentuhan, dll.
READMORE
 

Sistem pengeluaran zat sisa



Sistem pengeluaran zat sisa terbagi menjadi 4 :
  • Sistem Ekskresi : Proses pengeluaran zat-zat sis yang tidak berguna lagi
  • Sistem Resvirasi
  • Sistem Sekresi : Proses pengeluaran zat berbentuk cairan oleh sel atau kelenjar yang masih dimanfaatkan tubuh
  • Sistem Gutasi & Defekasi : Proses pengeluaran sisa pencernaan melalui anus
Metabolisme adalah Proses penyususnan zat kimia (anabolisme) dan proses penguraian zat kimia (katabolisme)






READMORE